Keunikan Dusun Adat Semokan Bayan Lombok Utara

Indonesia memang di kenal dengan keberagamannya baik suku,budaya maupun bahasa yang dimilikinya. Kurang lebih terdapat 1.000 suku dan bahasa yang mendiami repoblik yang terdiri dari 17.000-an pulau yang berjejer dari sabang sampai merouke. Dari sekian banyak suku bangsa yang ada ada terdapat suku-suku yang masih terasing dan mendiami tempat-tempat yang sulit dijangkau jauh di dalam hutan. Mereka hanya menggantungkan hidup dari hasil alam/hutan dan tempat tinggalpun masih berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Diantara suku-suku yang masih terasing tersebut masih ada di Papua yaitu Suku Dani, Suku Korowai dan Suku Bauzi, sedangkan Suku Anak Dalam ada di Jambi, Suku Badui di Banten, Suku Laut di Kepulauan Riau, Suku Sakai di Riau, Suku Kajang di Sulawesi Selatan, Suku Tagutil di MAluku Utara dan Suku Polahi di Gorontalo.

Sedangkan di Lombok sendiri terdapat juga sebuah dusun adat yang masih terasing dan jauh dari keramaian dengan pola hidup yang masih sangat sederhana yaitu dusun Semokan yang terdapat di Desa Sukadana Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara.   Dusun ini terletak kurang lebih 14 km. dari ibukota kecamatan Bayan. Untuk ke dusun adat ini harus meluangkan waktu untuk berjalan kaki melewati hutan dan melintasi tiga sungai dengan jarak kurang lebih 2 km. dari dusun Tapen yang merupakan dusun terakhir yang sudah mendapatkan pengaspalan jalan.
Kehidupan sehari-hari masyarakat di dusun Semokan masih sangat sederhana, rumah masih terbuat dari pagar bambu dengan atap ilalang serta masih menggunakan  peralatan rumah tangga dan alat memasak yang terbuat dari tanah dan masih menggunakan kayu bakar sebagai bahan untuk memasak dalam kesehariannya.  Sedangkan mata pencaharian masyarakat Semokan sendiri yaitu dengan bertani yaitu dengan menanam padi, jarak, kapas dan sayur-mayur dan beternak kambing, ayam dan kerbau. Sedangkan sebagai bahan penerangan masyarakat masih menggunakan lampu yang terbuat dari campuran jarak dan kapas. Berbalik 100 drajat dari kehidupan di zaman modern saat ini.

Dusun yang berada di dekat gunung Rinjani ini didiami kurang lebih oleh 16 kepala keluarga dengan suhu udaya yang dingin sekitar 28 sampai 30 drajat celsius. Dusun yang nyaman, sepi dan damai ini sangat cocok bagi yang ingin menyendiri menenangkan pikiran dari ruwetnya kehidupan.
Sedangkan pakaian yang digunakan sehari-hari masih menggunakan pakaian adat dengan tidak memakai dalaman seperti BH maupun celana dalam, sesuatu yang mungkin aneh bagi masyarakat biasa namun bagi mereka merupakan hal yang biasa.

Di tengah-tengah perkampungan terdapat sumur tua sebagai sumber air bersih yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat yang dilengkapi dengan bong/belanga (wadah yang terbuat dari bahan tanah liat). Selain itu juga terdapat masjid kuno yang disebut masjid kuno Semokan yang dijadikan pusat elaksanaan acara adat keagamaan seperti maulid ataupun lebaran adat.

Namun sayang sekali, masyarakat di dusun Semokan ini tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan atau bersekolah hingga sampai sekarang ini bisa dikatakan bahwa masyarakat masih buta aksara/tidak bisa baca dan tulis, prilaku hidup yang masih sangat tradisional meskipun di zaman yang sudah serba modern dan canggih.

Silahkan Bagikan Tautan Ini Dengan Menekan Tombol Share Di Bawah :

Silahkan tinggalkan komentar anda :)