Tradisi Maleman Masyarakat Lombok

Tidak terasa kini kita sudah berada di 10 malam terakhir bulan ramadhan tahun 1438 H.,sper tiga bulan yang terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu malam lalilatul qadar.   Dengan berkurangnya umur bulan puasa berarti sebentar lagi kita akan berpisah dengan bulan ramadhan  tahun ini. Semoga kita diberikan umur yang panjang sehingga kita bisa berjumpa lagi dengan bulan ramadhan tahun yang akan datang dan semoga keberkahan di bulan suci ini selalu kita dapatkan dengan harapan kita mendapat kemenangan di hari yang fitri. Amiin.

Bagi sebagian besar masyarakat Lombok, pada sepuluh malam terakhir tepatnya pada tanggal-tanggal ganjil seperti tanggal 21, 23, 25, 27, dan 29  dilangsungkan sebuah tradisi yang disebut maleman yaitu kegiatan membakar dile jojor. Namun pelaksanaannya tidaklah secara serempak, kadang ada yang melaksanakan tradisi ini tanggal 27 atau pada tanggal 29.



Dile (lampu) jojor terbuat dari buah yang mengandung banyak minyak seperti buah jamplung atau jarak yang sudah dikeringkan kemudian di goreng sampai hitam lalu ditumbuk sampai lembut. Kemudian hasil dari tumbukan bahan tadi dicampur dengan kapas atau kapuk kering lalu dililitkan pada bilah bambu yang dibuat seperti bilah bambu yang digunakan untuk membuat sate kelapa dan besarnyapun bervariasi. Jika tidak mau susah-susah untuk membuat karena sulitnya mendapatkan bahan, dile jojor, banyak pedagang di pasar-pasar tradisional yang menjual dengan harga yang relatif murah. Dengan Rp. 10.000 kita bisa mendapatkan 15 biji.



Tradisi maleman ini biasanya dilakukan setelah selesai sholat magrib sebelum berangkat ke masjid untuk menunaikan ibadah sholat isya' dan tarawih dan ada juga yang melakukan tradisi ini dengan terlebih dahuli melaksanakan acara roah (zikiran) dengan mengundang tetangga. Setelah itu dile jojor di tancapkan di setiap sudut rumah, di halaman dan juga di jalan-jalan. Suasana seketika berubah menjadi terang bendengan dan kegembiraanpun begitu terlihat terutama bagi anak-anak.    

Ini dimaksudkan sebagai penerang bagi warga/masyarakat yang akan melaksanakan kegiatan ibadah dan kegiatan keagamaan lainnya di masjid/musholla mengingat malam 10 terakhir bulan ramadhan merupakan malam yang di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan yang disebut dengan malam lailatul qadar dan malam lailatul qadar ini terdapat pada malam-malam ganjil dari tanggal 21 sampai dengan tanggal 29.

Namun dengan makin berkembangnya zaman, makin banyak masyarakat makin berfikir instan dan praktis hingga tradisi inipun makin terkikis, maleman yang mulanya menggunakan dile jojor yang terbuat dari bahan alami tergantikan dengan menggunakan minyak tanah dengan membuat obor-obor kecil dan bahkan banyak anak-anak sekarang lebih suka bermain kembang api dan mercun yang bisa mengganggu orang yang sedang istirahat maupun yang sedang melaksanakan ibadah sholat. 
  
Silahkan Bagikan Tautan Ini Dengan Menekan Tombol Share Di Bawah :

Silahkan tinggalkan komentar anda :)