Tradisi Presean Tradisi Adu Nyali

Satu lagi kesenian tradisional masyarakat Lombok adalah PRESEAN. Dikatakan adu nyali, karena dua orang pepadu (sebutan petarung presean) bertarung, saling pukul menggunakan penjalin (rotan) tanpa mengenakan baju atau telanjang dada dalam sebuah aarena.
Para peserta diambil dari penonton atau terkadang juga sudah ditentukan oleh panitia penyelenggara kemudian ditunjuk oleh pekembar (yang memilih para petarung).
Pada saat bertarung pepadu mengenakan ende (perisai/pelindung yang terbuat dari kulit sapi) dan untuk melindungi kepala pepadu hanya mengenakan sapuk (belangkon). Seperti dalm pertarungan tinju, presean juga dipimpin oleh seorang wasit yang disebut pekembar dan pertarungan ini juga berlangsung dalam tiga ronda. Tetapi terkaadang pertarungan tidak bisa selesai sampai ronda ke-tiga dikarenakan adanya luka apalagi luka di bagian kepala karena kerasnya pukulan rotan.
Untuk menghindari luka, terkadang pepadu menggunakan bebadong (sejenis azimat) kekebalan.
Dalam pertarungan presean ini juga diiringi dengan musik tradisional Lombok seperti gong,rincik, gendang dan seruling. Pertarungan presean antara dua pepadu ini sangatlah sportif karena setelah selesai pertarungan para pepadu langsung bersalaman dan saling peluk.
Belakangan ini presean kadang disuguhkan juga untuk menyambut tamu atau wisatawan yang berkunjung ke pulau Lombok.
Silahkan Bagikan Tautan Ini Dengan Menekan Tombol Share Di Bawah :

Silahkan tinggalkan komentar anda :)