Keunikan Desa Wisata Sade Rambitan

Tak lengkap rasanya bila berkunjung ke Pulau Lombok namun tidak singgah di Desa wisata dan budaya yang penuh dengan keunikan. Desa Sade yang berada di Rambitan Kecamatan Pujut Lombok Tengah bagian selatan. Desa ini dijadikan destinasi wisata oleh pemerintah provinsi Nusa Tenggara Barat pada tahun 1989 karen penduduknya masih menjaga keutuhan budaya dan pola hidup yang ditinggalkan oleh para leluhur sejak 600 tahun silam.

Walaupun sering lewat di desa ini, baru sekali saya berkunjung ke tempat yang jauh dari kata modern. Ya.. saya bilang jauh dari modern di zaman yang modern seperti saat ini karena di desa ini masih terkesan primitive dan keprimitivan inilah yang menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke desa ini. Semua rumah yang ada di desa ini masih menggunkan atap alang-alang dan tidak menggunakan tembok sebagai dinding rumah, melainkan menggunakan pagar yang terbuat dari bambu yang disebut oleh warga setempat dengan sebutan pager treng.

Alas/lantai rumahpun masih menggunakan tanah yang dihaluskan menggunakan batu. Uniknya lagi oleh warga setempat mengepel (membersihkan) lantai rumahnya menggunakan kotoran yang masih baru dari hewan peliharaan seperti kotoran kerbau atau sapi dengan campuran sedikit air. Ini dimaksudkan untuk mengusir serangga dan sebagai penangkal dari serangan hal-hal yang berbau magis kepada pemilik rumah. Perumahan Pemukiman penduduk di desa wisata ini terlihat begitu inidah seperti tersusun rapi dengan tingkatan-tingkatan karena memang desa ini terletak di lahan yang agak tinggi/berbukit. 

Waktu saya berkunjung ke desa ini bersama sekitar 60 orang dari 25 negara dalam acara IPWI (International Photo Week Indonesia) yang diselenggarakan kerja sama dengan Dinas Pariwisata provinsi Nusa Tenggara Barat disambut oleh para tetua adat dan dengan tarian tradisional Lombok yaitu tarian cupak gerantang dan musik tradisional Gendang Bleq
Keunikan lain di tempat ini adalah pakaian yang dikenakan oleh warganya adalah pakaian tradisional Lombok berupa lambung berbeda dengan penduduk di desa lain yang menggunakan pakaian adat pada acara-acara tertentu saja.
Keunikan selanjutnya di desa ini adalah kebanyakan kaum perempuan bekerja mencari napkah dari menenun kain  secara tradisional, hal ini merupakan warisan dari nenek moyang. Jadi disini kita akan melihat proses pembuatan kain menggunakan benang secara tradisional atau dalah bahasa Lomboknya disebut Nyesek. Selain itu juga pengunjung bisa menyaksikan proses pemintalan kapas kering menjadi benang yang merupakan bahan dasar untuk menenun setalah melalui proses pewarnaan dengan bahan-bahan alami. Proses pengerjaan  pembuatan kain membutuhkan waktu 2 minggu sampai berbulan-bulan, tergantung dengan kerumitan polanya. Lama dan rumitnya pengerjaan kain ini menyebabkan harga kain hasil tenunan tangan menjadi mahal.
Selain itu juga orang-orang tua di desa ini membuat berbagai anyaman songkok/topi dari bahan alami juga yang bisa menjadi oleh-oleh selain membeli kain tenun (songket).

Silahkan Bagikan Tautan Ini Dengan Menekan Tombol Share Di Bawah :

2 comments

Saya sempat salah sangka dengan pakaian masyarakat sana yang "lebih terbuka". Padahal tertutup. Aaaw, desanya kaya akan budaya. Jadi pengen ke sana.

silahkan .. dengan senang hati. masih banyak yang belum sempat saya tulis temtang budaya... :)

Silahkan tinggalkan komentar anda :)