Recent Posts
Pesona Sembalun Dari Bukit Pergasingan

Pesona Sembalun Dari Bukit Pergasingan


Berlibur ke Lombok tak akan sia-sia.Banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi bahkan untuk bisa menikmati keindahan pulau kecil yang dijuluki pulau seribu masjid ini butuh waktu yang banyak hingga pengunjung benar benar puas.

Di daerah sembalun kabupaten Lombok Timur misalnya. Disini para pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan alam yang sangat indah. Pemandangan gunung Rinjani yang mempesona, bukit-bukit yang berbaris indah berdiri kokoh mengelilingi Sembalun seperti Bukit Nanggi, bukit Pergasingan, bukit Selong, dan lain-lain dan indahnya petak-petak persawahan yang menghijau terhampat sejauh mata memandang.

Lewat puncak Pergasingan dengan ketinggian 1.700 mdpl pengunjung bisa menikmati pesona keindahan yang sangat luar biasa, hamparan persawahan dan permukiman warga Sembalun terlihat begitu indah baik siang maupun malam dan dari bukit ini terlihat jelas view gunung Rinjani yang tak terhalang bukit-bukit lainnya.  

Selain bisa menikmati keindahan alamnya, pengunjung juga bisa menikmati manisnya buah strowbery yang masih segar di persawahan sepuasnya dengan hanya membayar Rp. 10.000 dan berkunjung ke buah apel yang bisa dipetik sendiri.

Penasaran dengan keindahan Sembalun dari bukit Pergasingan ? Tonton Video berikut :

Jalan-jalan ke Situs Budaya Bale Toaq Sembalun

Jalan-jalan ke Situs Budaya Bale Toaq Sembalun


Banyaknya tempat wisata di daerah Sembalun kabupaten Lombok Timur membutuhkan waktu yang banyak jika ingin mengexplorenya. Indahnya alam di tempat ini menjadi penarik bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara. Maka jangan heran jika berkunjung ke daerah Sembalun kalian akan bertemu atau perpapasan dengan para pengunjung dengan tujuan yang sama yaitu untuk berlibur menikmati keindahan alam di tempat ini. Sawah yang terhampar indah, bukit yang berbaris rapi menambah keindahan, seperti sedang berada di negeri dongeng. 

Masih di kawasan Sembalun Lawang, ada tempat wisata yang sayang bila dilewatkan yaitu Situs Budaya Bale Toaq. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Bale berarti rumah dan toak berarti tua. Jadi Bale Toaq yaitu rumah tua yang menurut cerita leluhur masyarakat Sembalun merupakan rumah pertama yang ada di sembalun dan dihuni oleh tujuh pasangan suami isteri. Jumlah rumah yang dibangunpun sama seperti banyaknya pasangan. 

Awalnya ketujuh pasangan suami-isteri ini bertempat tinggal di kaki gunung tertinggi di pulau Lombok yaitu gunung Rinjani. Karana gunung Rinjani meletus, ketujuh pasangan inipun berpindah ke tempat yang lebih aman dan nyaman, maka dipilihlah desa Sembalun Lawang, tepatnya di Dusun Desa Beleq ini sebagai tempat tinggalnya. Pemukiman yang berada di kaki bukit Selong ini merupakan pemukiman pertama dan paling tua di Sembalun. 

Pada area ini dibangun tujuh buah rumah dan dua rumah panggung/alang yang beratapkan ilalang dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu, sedangkan lantai terbuat dari tanah dengan campuran kotoran kerbau/sapi. Rumah ini memiliki pondasi/lantai yang tinggi dan di depan pintu terdapat beberapa anak tangga yang terbuat dari tanah juga. Kemudian di teras depan ditopang dengan empat buah tiang yang terbuat dari kayu. Masing-masing rumah memiliki tempat menaruh air bersih yang terbuat dari bahan tanah juga yang orang Lombok/Suku Sasak menyebutnya bong (belanga). 

Di tempat ini pengunjungpun datang dan pergi silih berganti. Pengunjung datang sekedar berphoto-poto dan istirahat sejenak di halaman rumah yang ditumbuhi rumput atau di rumah panggung kemudian melanjutkan ke bukit Selong yang berada tak jauh dari tempat ini. Melalui bukit Selong para pengunjung bisa menikmati keindahan pemandangan agrowisata berupa hamparan persawahan yang begitu indah dan untuk lebih menarik pengunjung pengelola tempat wisata ini sengaja membuat tempat berphoto berupa panggung di atas bukit dengan background pemandangan alam berupa perbukitan dan hamparan persawahan.


Menikmati Keindahan Sembalun Dari Bukit Pergasingan

Menikmati Keindahan Sembalun Dari Bukit Pergasingan

Sore itu, sekitar jam 16.00 WITA. cuaca begitu cerah saat saya dan teman-teman sampai di Desa Sembalun Lawang dengan tujuan ingin menikmati keindahan alam Desa Sembalun yang sudah mendunia melalui bukit Pergasingan. Setelah istirahat sejenak di tempat parkiran dan membayar tiket Rp. 10.000 kepada pengelola, kamipun memulai perjalanan dengan berjalan kaki, sekitar 10 menit sampailah kami di kaki bukit Pergasingan yang berdiri kokoh dengan ketinggian 1.700 mdpl.

Walaupun tidak terlalu tinggi, namun perjalanan yang harus dilalui dari kaki bukit lumayan terjal, apalagi bagi para pemula dibanding dengan perjalanan menuju puncak Bukit Naggi yang berada di daerah Sembalun juga. Untuk itu terlebih dahulu harus mempersiapan fisik dan tenaga yang cukup sebelum menuju puncak, jangan sampai kehabisan tenaga di tengah-tengah perjalanan.

Keperluan lain yang tak kalah pentingnya yang harus dipersiapkan juga sekiranya berkeinginan untuk berkemah/nge-camp adalah  makanan/cemilan dan air secukupnya, kompor untuk memasak, tenda, selimut dan jacket karena suhu disini cukup dingin dan jas hujan untuk mengantisipasi supaya tidak basah dalam perjalanan dan obat-obatan. Untuk menjaga tubuh supaya tetap hangat bawa minuman yang terbuat dari bahan jahe atau bisa juga dengan menggunakan minyak oles penghangat seperti minyak kayu putih.  Jangan pernah jadi pendaki yang  nekat karena akan merugikan diri sendiri.

Kurang lebih 20 menit pendakian, kami disuguhkan dengan pemandangan yang sangat indah. Petak-petak sawah beragam warna terhampar bak permadani yang berada pas di bawah kaki bukit dan bukit-bukit yang yang mengelilingi desa Sembalun terlihat bagai lukisan. Sayang sekali bila dilewatkan begitu saja tanpa harus merekan dan diabadikan dengan kamera yang sudah kami persiapkan, hingga perjalanan menuju puncak bukitpun tidak bisa mencapai target. Perjalanan banyak tersita dengan mengambil photo view-view indah baik dibawah maupun di depan kami yaitu Gunung berapi tertinggi di pulau Lombok yaitu gunung Rinjani yang terlihat begitu jelas tanpa penghalang sedikitpun oleh bukit-bukit lain.


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 18.00 saat kami disuguhkan dengan pemandangan yang sangat luar biasa. Cahaya jingga matahari yang tenggelam dalam peraduannya yang menyinari kepulan kabut tebal, serasa berada di negeri di atas awan. Letihpun sudah tidak erasa lagi. Terobati dengan keindahan ciptaan Yang Maha Indah seluas mata memandang. Hawa dinginpun mulai terasa, bunyi daun cemara yang tertiup angin bersahutan seperti bunyi hujan yang begitu lebat  dan tendapun segera kami dirikan.

Dinginnya malampun mulai terasa sampai tubuh menggigil, kamipun mencari ranting-ranting kayu kering di sekitar tenda dan membuat perapian sambil menikmati hangatnya kopi dan pemandangan desa Sembalun yang di terangi sinar rembulan dan tampak gemerlap dengan lampu warna warni. Indah nian. Pemandangan indah inipun sayang untuk tidak diabadikan dalam sebuah photo sebagai kenangan selama berada di Pergasingan. Karena terasa semakin dingin, kamipun memutuskan untuk beristirahat di dalam tenda agar bisa bangun lebih pagi untuk menikmati indahnya mentari pagi sebelum pulang.